Buscar

Senin, 10 September 2012

11 Th Anniversary September 11 Th Tragedy 2 (Pahlawan Dibalik Jatuhnya Pesawat Ke 4)

Seperti kita ketahui sebelumnya.Pesawat ke 4 yang direncanakan menabrak Gedung Putih di Washington DC,yaitu Boeing 757 - 200 dari United Airlines jalur Newark - Pennsylvania penerbangan no.93 jatuh di Somerset Country.Tapi seperti apakah kisahnya hingga pesawat ini jatuh dan gagal menabrak Gedung Putih ? Berikut cerita dan kesaksian dari para awak kapal yang penulis himpun dari berbagai sumber.
PESAWAT terbang milik perusahaan penerbangan United Airlines penerbangan nomor 93 tiba-tiba saja dikuasai oleh empat orang pembajak. Sampai pesawat itu menukik tajam menghempas ke bumi, yang menimbulkan lubang sedalam hampir 10 meter, tak ada yang tahu bagaimana caranya keempat pembajak itu menguasai pesawat.
Di penerbangan 93 itu duduk 10 orang penumpang kelas utama dan 27 orang di kelas ekonomi. Pesawat dikemudikan oleh pilot Jason Dahl dan co-pilot LeRoy Homer beserta 5 orang awak pesawat ditambah 4 orang pembajak. Total 48 orang.
Dari alat perekam yang ditemukan di antara reruntuhan pesawat digabung dengan penemuan-penemuan FBI, seluruh peristiwa yang terjadi beberapa saat sebelum pesawat menghujam bumi, tersusunlah suasana seperti di bawah ini.
Ziad Samir Jarah adalah pemimpin pembajak, duduk di kursi 1B, kursi pertama yang terletak di lajur kiri. Di belakangnya di kursi 3 C, 3D dan 6B duduk tiga orang pembajak lainnya bertampang Timur Tengah yang masih muda-muda. Semuanya di kelas ekonomi. Penerbangan 93 baru tinggal landas pukul 08.42 karena padatnya penerbangan, tertunda 45 menit.
Sarapan pagi diedarkan, dan para pembajak sempat menikmati. Jam 09.20 atau 17 menit setelah pesawat United Airlines 175 menabrak menara selatan WTC, penumpang fight 93 ini masih tetap asyik menikmati penerbangan menyisir pantai. Sama sekali mereka tidak tahu bahwa kedua menara kembar WTC sudah rontok ditabrak pesawat. Saat itu, penumpang first class yang ada di bagian depan atas, melihat pemandangan yang aneh. Jarah dan ketiga rekannya beridir dan muncul dengan ikatan kain merah di kepalanya. Aksi pembajak dimulai.
Di kokpit, 20 menit sebelumnya, pilot Jason Dahl dan kopilot pertama LeRoy Homer sudah mendapat peringatan siaga atas kemungkinan terjadinya bahaya. Pesan itu dikirim oleh kantor pusat United Airlines buat seluruh pilotnya dan muncul di monitor komputer kokpit pesawat milik maskapai penerbangan tersebut.
Sampai di detik itu, Jason Dahl dan LeRoy Homer belum diberi tahu bahwa dua pesawat sudah ditabrakkan ke kedua menara kembar WTC. Pesan di komputer kokpit hanya berbunyi:"Beware, cokpit intrusion". ("Hati-hati, ada yang menerobos masuk ke kokpit"). yang mana dibalas dengan mengetikkan kata:"Confirmed" ("Pesan diterima"}. Pukul 09.25 pilot mengontak menara kontrol Cleveland dan dengan nada kata berat mengatakan:"Selamat pagi". Cuma itu, setelah itu terputus. Petugas di menara penasaran dan bertanya,"Ada yang mengontak Cleveland tadi?". Tak ada jawaban. Justru beberapa saat kemudian terdengar suara ribut-ribut, suara orang-orang berjuang lepas dari kecemasan.
Ternyata suara itu berasal dari kabin penumpang Flight 93, saat Jarah, si pembajak bersama ketiga rekannya, menekan para penumpang agar tidak memberikan perlawanan. Masih melalui alat perekam, diketahui seorang awak pesawat sedang disandera dan memohon agar tidak disakiti. Pembajak telah membekap awak pesawat itu dan meletakkan pisau atau cutter di batang tenggorokannya. Tujuannya ialah memaksa pilot ke luar dari kokpit. Pembajak menggedor pintu kokpit. Para penyelidik kemudian berkesimpulan pembajak telah menggorok salah seorang awak pesawat yang sedang disanderanya setelah para pilot tak mau membuka kokpit. Dan, beberapa saat kemudian pembajak berhasil menjebol ke dalam kokpit dan mengambil alih kemudi. Dia mematikan perangkat pilot otomatis. Sinyal yang ditangkap di menara kontrol menunjukkan bahwa posisi terbang pesawat tidak stabil. Naik, turun. Kemudian terdengar suara seseorang dalam bahasa Arab:"Semuanya terkendali".
Nun, jauh dari pesawat yang sedang dalam perjalanan menuju maut itu, tepatnya di San Ramon, California di perbukitan yang subur, Deena Burnett tengah sibuk menyediakan sarapan pagi buat ketiga putrinya. Tiba-tiba telepon berdering. Terdengar suara Tom, suaminya, dalam nada aneh.
"Kau baik-baik saja?"tanya Deena
"Tidak". Tom diam sejenak. Lalu,"...aku berada di pesawat United Flight 93 dan kami kini telah dibajak. Mereka telah menggorok seorang laki-laki, mereka juga membawa bom. Cepat hubungi yang berwenang, Deena". Tom, lekas-lekas memutuskan hubungan. Deena terkejut.
Beberapa saat kemudian, Deena sudah berhubungan dengan FBI. Tiba-tiba terdengar suara biip. Tom, suaminya menelepon lagi. Ia mengabarkan bahwa pembajak sudah masuk ke dalam kok pit. Deena juga mengatakan bahwa nasib dua menara kembar WTC yang hancur ditabrak dua pesawat penumpang.
"Kami balik lagi ke New York. Kami menuju ke selatan" lanjut Tom. Padahal, pesawatnya mengarah ke tenggara, menuju Washington DC ibukota AS.
Sementara itu, di Windham, New York, Lyz Glick bersama bayinya yang berumur 12 minggu berkunjung ke rumah orangtuanya. Telepon di rumah itu berdering dan ternyata dari Jeremy, suaminya. Jeremy mengatakan bahwa pesawatnya dibajak oleh "orang-orang bertampang Iran" dengan ikat kepala merah dan mengaku membawa bom. Mendengar kata bom, Lyz panik dan Jeremy mencoba menenangkannya. Selama beberapa menit Lyz dan Jeremy berulang kali mengucapkan "I Love You". Jeremy mengatakan betapa besar cintanya ia kepada Lyz dan Emerson, bayi perempuannya yang baru berusia 12 minggu.
Selanjutnya dengan nada berat Jeremy mengatakan, demi kebahagiaan istri dan anaknya, bila ia harus pergi unuk selama-lamanya, dia akan menghormati apapun keputusan Lyz.. Mengharukan sekali dan Lyz sangat trenyuh. Jeremy bertanya kabar WTC telah ditabrak oleh dua pesawat yang dibajak. Lyz membenarkan. Kemudian Lyz bertanya apakah para pembajak membawa senapan mesin.
"Tidak ada senapan, hanya pisau" jelas Jeremy.
Di saat yang menegangkan itu beberapa penumpang lainnya dari seluruh penumpang yang dikumpulkan di bagian belakang pesawat masih sempat berkomunikasi dengan telepon. Umumnya mengucapkan "salam perpisahan" kepada orang-orang tersayang. Pramugari Sandy Bradshawa, tak ketinggalan menelepon Phil, suami tersayangnya, di Greensboro, North Carolina.
"Sayang, sudahkah kaudengar apa yang sedang terjadi? Sudah kaudengar sayang? Kami dibajak!" kata Sandy yang menelepon suaminya dari ruang kelas ekonomi. Phil, sang suami, diam sejenak. Tak sepatah katapun ke luar dari mulutnya. Sebelum Phil tahu apa yang harus diperbuatnya, Sandy, istrinya mengutarakan niatnya bersama para penumpang lainnya untuk melawan para pembajak:Ziad Samir Jarrah dan ketiga temannya. Lebih jauh Sandy mengatakan bahwa beberapa penumpang sedang merancang sesuatu. Semuanya berbisik-bisik di bagian belakang pesawat. Saat itu, kata Sandy di telepon bahwa ia dan rekan-rekan sekerjanya sedang memasak air, mengisi teko dengan air mendidih sebagai senjata untuk disiramkan ke pembajak.
Jeremy Click, sempat menghubungi lagi Lyz, istrinya dan menceritakan apa yang dialaminya bersama puluhan penumpang lainnya. Jeremy juga mengutarakan niatnya untuk melawan pembajak bersama penumpang yang lain.
"Bagaimana pendapatmu, sayang?" tanya Jeremy
Lyz belum memberikan jawaban. Namun ia tahu dengan tubuh nyaris 2 meter dengan berat tubuh 100 kg serta mantan juara judo di kampusnya, Jeremy, merupakan kekuatan yang tak bisa disepelekan. Kepada Lyz, Jeremy juga mengatakan bahwa di antara pembajak ada yang bertubuh besar. Tapi, melihat para penumpang lain merencanakan perlawanan, wajarlah jika ia juga bersemangat.
"Lyz, adakah ini ide yang bagus?" tanya Jeremy.
Lyz hanya dapat mengatakan, bila hal tersebut merupakan ide terbaik dan satu-satunya jalan, maka ia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada suaminya. Satu-satunya jalan? Nampaknya memang begitu. Di lajur kursi 30 sampai 34, tempat para penumpang dikumpulkan, niat untuk melawan sudah tak terbendung. Karena itu, meskipun seorang pembajak, yang diyakini bernamaAhmed Alhaznawi, berkali-kali melontarkan perintah bernada teror, mengancam akan meledakkan kotak merah (disebut sebagai bom) yang dililitkan di pinggangnya, penumpang tak banyak menggubris. Niat untuk melawan sudah bulat. Ada Jeremy Glick, Tim Burnett mantan pemain sepakbola khas andalan, Mark Bingham mantan jagoan rugby di kampus yang dikenal sebagai sosok penantang bahaya (risk taker), ada Lou Nackle, mantan atlet angkat besi dengan tato Superman di pundaknya. Juga ada Rich Guadagno serta petugas di California Fish and Wildlife yang sudah dilatih bertempur di medan peperangan atau menghadapi saat-saat kritis. Bahkan, pramugari Ceecee Lyles adalah mantan detektif di Ft. Pierce, Kepolisian Florida. Menyusul William Cashman mantan anggota pasukan para di kesatuan 101st Airborne (AU AS). Pengacara Linda Gronlund karateka dengan sabuk coklat serta Lauren Grandcolas, organisator pelatihan sky divingdan jagoan mendaki gunung yang juga mantan jaksa di kesatuan Scotland Yard. Terakhir, ada juga Don Green, yang tak bisa dianggap enteng, karena ia adalah wakil presiden perusahaan produsen alat-alat kelengkapan keamanan penerbangan. Berkali-kali ia terbang solo dengan pesawat tunggal. Nah, jika para penumpang melawan dan ada apa-apa dengan pesawat, dengan bantuan Greene diharapkan mampu mengendalikan pesawat Flight 93 yang dibajak ini. Pukul 09.45 - Tom menelepon Deena lagi. Sebelumnya Deena mendengar kabar sebuah pesawat baru saja menabrak gedung Pentagon dan mengira itu pesawat yang ditumpangi Tom, suaminya. Mendengar suara Tom di telepon Deena cukup lega. Suaminya masih hidup. "Tom, kau baik-baik saja?" tanya Deena hampir menangis. "Tidak Deena" jawab Tom dengan suara tertahan penuh beban. Deena lalu menceritakan bahwa sebuah pesawat baru saja menghantam gedung Pentagon. "My God!" kata Tom tak percaya. Deena selanjutnya menceritakan semua pesawat yang dibajak pada tanggal 11 September itu dihantamkan ke bangunan-bangunan penting di sepanjang Pantai Timur . "Pasti takkan terelakkan" teriak Deena. Tom lalu mengatakan bahwa para pembajak memiliki bom, tapi ia tak percaya. "Pokoknya kami akan melakukan sesuatu. Harus melakukan sesuatu. Harus!" kata Tom keras. Tekad melawan pembajak sudah bulat. Di dalam kabin pesawat pembajak menyadari bahwa para penumpang merencanakan sesuatu yang berbahaya. Mereka nyaris memutuskan meninggalkan kabin dan mengunci diri di dalam kokpit. Di dalam kokpit, alat perekam berhasil suara seorang pembajak memberi tahu rekannya "Beresi saja semua orang ini". Nampaknya para pembajak panik. Enkripsi yang berhasil direkam juga menunjukkan sebuah pembicaraan dalam bahasa Arab menginginkan agar seorang pilot bisa memegang kendali lagi. Pilot itu tergeletak dan berdarah di lantai kabin first class. Terdengar salah seorang pembajak berdoa. Seorang lainnya memberi saran agar menggunakan kapak yang ada di bagian belakang kokpit untuk menakuti-nakuti penumpang. Tapi, di bagian belakang pesawat para penumpang sedang berdebat untuk menentukan cara apa yang mereka harus lakukan melawan pembajak. "Apa yang harus kami lakukan?" tanya Jeremy saat menelpon lagi Lyz, istrinya. "Lakukan saja apa yang menurutmu baik? jawab Lyz tegas. Kali ini suaranya tak terdengar panik. Dia tahu apa yang bakal terjadi suaminya dan siap menerima apapun yang bakal terjadi. Dia sadar tak banyak pilihan buat suaminya. Andaikata Jeremy meninggal, setidaknya Lyz tahu bahwa suaminya meninggal saat berjuang agar bisa pulang untuk dia dan Emerson, bayinya yang mungil. Untuk menghibur istrinya yang cemas, Jeremy berselooroh soal para penumpang yang akan memakai segala cara, alat, dan senjata untuk melawan pembajak. "Aku akan memakai pisau mentega sisa sarapan pagi tadi" kelakar Jeremy. Tom Burnett mendapat penguatan serupa dari Deena dalam perbincangan telepon yang keempat. Cuma, Deena minta agar suaminya itu duduk tenang menentramkan hati sambil menantikan pertolongan dari aparat. Tapi, tampaknya belum kuat juga. "Ada lagi pesawat yang menabrak Pentagon?" tanya Tom. Deen menjawab tak ada. "Kami tidak bisa berdiam diri bila mereka berusaha menjatuhkan pesawat ini. Kami akan melakukan sesuatu" kata Tom meyakinkan istrinya. Deena tahu suaminya panik. Karena itu, ia bertanya kepada suaminya apa yang bisa dilakukannya untuk menenangkan hati sang suami. "Berdoalah, Deena. Berdoalah...." pinta Tom. Telepon lalu ditutup.
Mengetahui seluruh penumpang sudah bertekad bulat, pembajak Jarrah dan kawan-kawannya berusaha memberikan sebuah pelajaran. Kemudi otomatis dimatikan dan pesawat meluncur dalam keadaan tak stabil. Penumpang bergulingan.
"Yesus! Kami akan terjun bebas" teriak Todd Beamer yang sempat menelepon Lisa Jefferson, supevisor perusahaan kartu kredit GTE Customer Center di Oakbrook, Illinois. Saat itu tepat pukul 09.45. Bagaimana Todd bisa berhubungan dengan Lisa? Mungkin, Todd punya masalah dengan kartu kreditnya. Atau itu hanya sebuah kamuflase, kalau-kalau pembajak menangkap basah bahwa dia sedang menelpon ke aparat keamanan. Bahkan saat itu, Todd cuma menekan angka "0" ke operator bebas, yang kemudian dihubungkan ke Lisa.
Yang pasti, pembicaraan Todd membuat Lisa dapat mengikuti perkembangan dramatis yang terjadi di dalam pesawat, tentang data-data pesawat, penumpang dan para pembajak.
"Posisi pesawat naik lagi!" teriak Todd "Oh, tidak, Lisa. Kukira hanya berputar. Kami menuju utara. Tak tahu harus ke mana""lanjut Todd. Kemudian Lisa mendengar Todd mengatakan niatnya melawan para pembajak bersama seluruh penumpang.
"Kau yakin dengan apa yang kaulakukan?" tanya Lisa.
"Itulah hal yang harus kami lakukan" sahut Todd mantap. "Yesus, bantulah aku!" lanjut Todd. Kemudian, di telepon Lisa mendengar Todd berteriak kepada penumpang,"Kalian semua sudah siap. Ayo serang!"
Penumpang menyerang? Tunggu dulu!
Dalam hitungan detik-detik sebelum pesawat Flight 93 ini menghunjam bumi, beberapa penumpang masih sempat menelepon orang-orang tercinta. Antara lain, Lauren Grandcolas yang mencoba menghubungi suaminya, namun tak berhasil. Melalui mesin penjawab, Lauren meninggalkan pesannya:"Jack, ada masalah kecil dengan pesawat ini. Tapi, baik-baik saja dan menyenangkan kok..." Lauren lalu terdiam. Bicaranya terputus. Dia berusaha mengulangi kata-kata yang tak lengkap diucapkan. "Aku akan.... aku akan....". Linda tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Linda Gronlund menelepon saudara perempuannya, Elsa, hanya untuk memberi tahu betapa sayangnya. Elizabeth Wainio (28) menelepon ibu tirinya di Catonsville, Maryland, untuk mengatakan rasa takutnya. Wainio terdengar meratap dan seseorang wanita lain di penumpang menenangkannya.
"Kau tak perlu takut, Elizabeth. Aku akan memelukmu" ucap Esther di telepon
Suasana semakin tegang dan mencekam. Namun, juga khidmat ketika beberapa penumpang mengucapkan secara bersama-sama ayat-ayat yang terdapat dalam Alkitab. Sandy menelepon lagi suaminya, Phil Bradshaw. Sandy mengatakan:"Sudah saatnya pergi, sayang". Pramugari Ceecee menelepon suaminya, Lorne. "Sayang, pesawatku dibajak". Lantas keduanya terlibat dalam pembicaraan mengenai masa-masa indah percintaan mereka. Elizabeth Wainio terus berbicara kepada ibu tirinya dengan nada tinggi:"Mereka melakukannya! Mereka melakukannya! Mereka menerobos ke dalam kokpit. I love you! Selamat tinggal!" ujar Wainio tergesa-gesa menutup telepon.
Tak diketahui siapa pemimpin serangan kepada para pembajak yang menguasai kokpit. Siapapun yang memimpin, dia atau mereka adalah pemberani. Sebab jarak yang mereka yang dikumpulkan oleh pembajak dengan kokpit berjarak sekitar 30 meter. Mereka sudah siap menanggung segala risiko, dicegat maut dalam aksi menyerbu ke kokpit. Mereka benar-benar pemberani.
Alat perekam di kokpit yang belakangan ditemukan mengungkapkan bahwa mulai pukul 09.57 terdengar suara-suara perjuangan hidup dan mati di kokpit. Ada baku hantam, suara barang pecah, orang berteriak dan menjerit: "Tangkap mereka! Bekuk mereka!". Untuk menghentikan perlawanan, seorang pembajak menyarankan untuk memutuskan selang oksigen. Namun, yang lain mengatakan,"Tenang saja". Tapi, yang lainnya mengatakan tugas bakal segera beres. Artinya..... pesawat sudah mulai menyusuri jalan celaka menuju kematian!
Pesawat menukik tajam. Rekaman menunjukkan ada suara lelaki berteriak, entah penumpang, entah pembajak. Juga tak diketahui apakah para penumpang sudah berhasil menjebol pintu kokpit, atau cuma sekedar menggedor-gedor dan memecah sesuatu di luar kokpit. Yang pasti, data rekaman mencatat dua orang pembajak di kokpit saling berebut kemudi. "Berikan kepadaku, ayo berikan kepadaku!". Suasana tak terkontrol lagi dan akhirnya pesawat Flight 93 menghunjam bumi!
Pesawat naas berisikan penumpang heroik itu menukik di ladang di lereng Somerset County, Pennsylvania, arah tenggara kota Pittsburg. Begitu tajamnya hunjaman itu sampai saksi mata mengatakan hidung pesawat amblas sedalam 10 meter ke perut bumi.
FBI yakin sebenarnya pesawat ini termasuk rangkaian manuver dengan tiga pesawat lainnya yang menabrak menara kembar WTC dan Pentagon. Sebenarnya pesawat ini diyakini hendak ditabrakkan ke Gedung Putih atau Gedung Capitol di Washington. Namun, karena keberanian para penumpang maka rencana pembajak berhasil digagalkan. Gedung Putih atau Gedung Capitol selamat dari kehancuran.
Selamatlah lambang atau ikon negeri Paman Sam itu. Sedih memang mengingat banyaknya korban yang jatuh. Tetapi, rasa sedih itu niscaya bisa berkurang bila mengenang keberanian, kegagahan serta nilai kepahlawanan para penumpang Flight 93.
Tengoklah Lisa Beamer. Ia sedih tanpa suami. Sedih pula melihat dua anak laki-lakinya tak berayah. Hari-hari setelah kematian suaminya dia isi dengan isak tangis. Tetapi, begitu tahu dari FBI betapa suaminya sangat berani dan mati sebagai satria, Lisa bisa tersenyum. Bahkan, dia bangga sekaligus ngetop karena bisa tampil memberikan kesaksian di program "Larry King Live" CNN yang tersohor itu!

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Safety Is The First | Copyright © 2011 Diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger