Buscar

Minggu, 09 Desember 2012

Salah Sangka





Sebut saja namanya Yuni.Dia seorang eksekutif muda di sebuah perusahaan di bilangan Thamrin,Jakarta.Setiap hari ia berangkat dan pulang kantor naik kereta.Kendaraan yang baru digunakan 3 tahun terakhir.Sebelumnya ia menggunakan mobil pribadi untuk menuju ke kantornya dari rumahnya di daerah Depok.Namun belakangan ia mulai berfikir.Tarif yang lebih murah serta penolong di saat jalan menuju kantor bagaikan pameran kendaraan pribadi membuatnya beralih ke kendaraan dengan julukan ‘kaleng setrum’ ini.

Setiap pagi ia sudah bersiap di peron ujung stasiun Depok menunggu KRL tujuan stasiun Jatinegara dengan penampilanya yang menarik dan wangi pafum melatinya.Tak lupa di tangan kanan selalu ada blackberry lengkap dengan headset yang terpasang di telinganya.Sementara di tangan kirinya ia menggenggam kertas berwarna merah dengan tulisan Commuter Line.

Seperti biasa.Ketika kereta datang saat jam berangkat kerja kondisinya penuh.Kecil kemungkinan bagi Yuni untuk dapet tempat duduk dengan kondisi kereta penuh.Tak lama kereta yang ditunggu Yuni pun datang dan berhenti.Kali ini ia beruntung.Ia dapet kereta balik dari arah Jakarta.Sehingga kondisinya tidak sepenuh yang dari Bogor.Yuni masuk dan berdiri santai di ujung rangkaian.Tepat di ujung rangkaian itu,ada bangku yang dikhususkan uuntuk orang – orang dengan kebutuhan khusus.Yuni tidak ingin memaksakan duduk disitu karna ia mengerti.banyak orang yang lebih membuutuhkan bangku itu dibanding dirinya.

Tak lama di bangku khusus itu diduduki oleh seorang pria dengan pakaian kemeja,celana bahan dan sepatu.Sama dengan Yuni.Telinganya dipasang headset dari Blackberrynya.Disampingnya duduk sepasang kakek nenek.”Yah ni cowok.Ga ngerti apa yak ni bangku prioritas ?” Gumamnya dalam hati.

Perlahan kereta yang berhenti di setiap stasiun itu mulai jalan.Kondisi kereta mulai disesaki penumpangnya.Terlihat di sekitar bangku itu mulai didesaki wanita yang sebaya dengan Yuni yang matanya jelalatan berharap dapet tempat duduk.Di antara gerombolan wanita itu terlihat seorang wanita tua. Nafasnya terengah – engah dan mukanya pucat pasi.Sedangkan tanganya gemetar.Sepertinya ia kelelahan.Ibu itu kemudian mendekat ke bangku tadi.Pria itu semula tidak peduli dengan keadaan disekelilingnya.Ia hanya memandang wanita tua itu sejenak,kemudian kambali asyik dengan blackberrynya.”Gila nih orang.Egois banget ! Udah tau ada orang tua.Ga mau peduli juga !” guumam Yuni dalam hati.

Tiba – tiba wanita tua tadi menepuk pundak pria itu dan berkata,”Rendy ya ?”.”Lah.ada nenek Rohana.” Balas pria tadi seraya melepas headsetnya dan memasukan ke dalam tasnya.Kemudian terjadilah percakapan kira – kira seperti ini :
“Apa kabar ? Lama gak jumpa ya kita.”
“Alhamdulillah baik nek.Nenek sendiri gimana kabarnya ?”
“Alhamdulillah baik.Oya,gimana keadaan kamu setelah kecelakaan waktu itu ? maaf nenek gak bisa nengokin.Waktu itu nenek lagi gak kuat jalan.”
“Gapapa nek.Yang penting doanya aja.”
“Memangnya kenapa bisa kecelakaan ?”
“Iya jadi waktu itu aku mau ke pasar naik motor.Tiba – tiba ada anak sekolaan naik motor juga.Trus dia nyalip di tikungan.Lah aku kan kaget.Tapi ga sempet banting stir.yaudah.Adu kambing deh.”
“Innalillahi.Trus kaki kamu gimana ? Katanya diamputasi ?”
“Iya.Ni sekarang pake kaki palsu.Alhamdulillah udah bisa jalan.Tapi gakuat bediri lama.makanya aku duduk.”

Tanpa mereka sadari  Yuni mendengar percakapan mereka diam – diam.Sejenak ia merasa bersalah karna sudah menilai pria itu sekilas dari penampilanya yang terlihat sehat.Tapi sebenarnya rapuh.Tak lama stasiun yang dituju Yuni hampir sampai.Kemudian ia dengan sigap beringsut menuju pintu untuk turun dari kereta.

1 komentar:

Anonim

OH

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Safety Is The First | Copyright © 2011 Diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger