Buscar

Selasa, 25 September 2012

Curhatnya Admin Komunitas GM-Marka Mengenai Kenaikan Tarif KRL


 

Fakta, Setengah Fakta, dan Kebohongan Di Balik Rencana Penaikan Tarif KRL, 1 Oktober 2012

Penaikan tarif KRL yang akan dilakukan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) harus disikapi dengan kritis. Walau ada beberapa bagian yang bisa dibenarkan, namun ada beberapa bagian yang masih harus dipertanyakan, bahkan sebenarnya kebohongan belaka.

1. Latar Belakang PT KCJ dan PT KAI menaikkan tarif KRL Commuter Line

Menurut Dirut KAI, Ign. Jonan, penaikan tarif KRL dilakukan berdasarkan amanat Perpres 83/2011 yang mewajibkan PT KCJ menaikkan realisasi pengangkutan penumpang menjadi 1,5 juta orang pada tahun 2019. Kenaikan dianggap harus dilakukan karena KRL dioperasikan tanpa pemberian subsidi tarif dari pemerintah.

Sumber:  http://m.news.viva.co.id/news/read/353261-pt-kai--kenaikan-tarif-krl-sesuai-pasar

Komentar:

Sebelum rencana ini, tarif layanan KRL yang dulunya dikenal dengan nama KRL AC Ekonomi ini adalah Rp6.000, lalu diturunkan sedikit menjadi Rp5.500 (Bogor-Jakarta). Pada saat peluncurannya, tersedia dua alternatif lain yaitu KRL Ekspres AC bertarif Rp11.000 (Bogor-Jakarta) dan KRL Ekonomi non-AC bertarif Rp2.500, sebelum turun menjadi Rp2.000 (Bogor-Jakarta).
Pada 1 Juli 2011, KRL Ekspres AC dan KRL Ekonomi AC dihapuskan seluruhnya, diganti dengan layanan baru bernama KRL Commuter Line. Pada awalnya bersamaan dengan penghapusan KRL Ekspres ini, tarif akan dinaikkan menjadi Rp9.000 (Bogor-Jakarta). Namun setelah mendapatkan kecaman keras, tarif hanya naik menjadi Rp7.000.
Selain itu, mulai 1 Juli 2011, terjadi dikotomi pengurusan KRL. Ada sejumlah armada milik PT KAI dan PT KCJ, dan PT KCJ hanya akan melayani keluhan seputar armada milik mereka saja.

Lebih lanjut akan dibedah di bagian berikutnya.

2. Janji Perbaikan Prasarana dan Realisasi Standar Pelayanan Minimum (SPM)

PT KCJ menyatakan bahwa penaikan tarif akan diiringi dengan perbaikan pelayanan. Salah satunya penempatan petugas lebih banyak dan pemakaian lebih banyak teknologi. Sekretaris PT KCJ, Makmur Syaheran menyatakan bahwa kini sudah ada satu rangkaian KRL yang dipasang televisi LCD untuk menginformasikan rute. Selain itu, ada announcer yang menginformasikan posisi kereta saat berjalan.

 Sumber:  http://www.tempo.co/read/news/2012/09/22/083431259/Harga-Tiket-KRL-Naik-Ini-Kompensasinya

Komentar:

Ada beberapa hal yang harus sangat dikritisi di sini.
a. Penempatan petugas yang lebih banyak tidak menjamin pelayanan lebih baik. Setiap hari masih mudah kita jumpai KRL AC yang pintunya diganjal dan dibiarkan saja baik oleh petugas di dalam rangkaian maupun oleh petugas di setiap stasiun yang dilewati. Masalah pengganjal pintu tidak dijamin akan hilang dengan penaikan tarif yang akan diberlakukan bulan depan.
b. Dalam pengelolaan rangkaian, PT KCJ menganut sistem dikotomi. Selama ini ada sejumlah armada yang dimiliki oleh PT KCJ (dengan striping merah dan logo KCJ) dan armada yang dimiliki PT KAI (dengan striping biru/hijau/oranye dan berlogo PTKA). Bila rangkaian milik PT KAI rusak, maka PT KCJ akan "cuci tangan", mengklaim itu bukan urusan mereka.
Namu konyolnya, rangkaian yang "diakui" sebagai inovasi KCJ di sini sesungguhnya adalah rangkaian milik PT KAI. Rangkaian "Djoko Vision" sesungguhnya bukan didesain karena intervensi KCJ, namun diakui sebagai inovasi KCJ!
c. Sesungguhnya ada "Standar Pelayanan Minimum" yang dirancang sebagai "janji" minimum pelayanan bagi operator KRL. Namun sayangnya, standar ini tidak dapat dipaksakan (dalam artian tidak ada kompensasi apa-apa bila standar tidak terpenuhi).
d. Announcer hanya tersedia di sedikit set KRL saja. Sebagian besar KRL bahkan yang milik KCJ sendiri, tidak memiliki peralatan announcer yang siap dipergunakan, bahkan dalam kondisi rusak. Sehingga hanya pada sedikit kesempatan saja announcer bisa didengar di KRL.

3. Prinsip "Ada Rupa Ada Harga" dan Perlakuan Operator Terhadap Penumpang

Pada saat menaikkan tarif dari Rp5.500 ke Rp7.000 bulan Juli 2011 lalu, Sekretaris PT KCJ Makmur Syaheran memberikan pernyataan ala "ada rupa ada harga". "Bagaimana untuk mendeliverd service. Kalau tarif Rp 9.000 kita akan kasih service Rp 9.000, begitu juga kalau tarif Rp 7.000 kita kasih service yang Rp 7.000,"
Pada saat penaikan tarif yang pertama, ada janji perbaikan pelayanan (dari yang Rp5.500 menjadi yang Rp7.000).

Sumber:  http://news.detik.com/read/2011/06/30/150812/1671878/10/pt-kai-beri-layanan-krl-commuter-line-sesuai-tarif
Komentar:
a. Nyatanya tidak ada perbaikan pelayanan yang berarti. KRL dengan AC yang panas masih tetap beroperasi, dan kondisi di stasiun tidak ada perubahan banyak dari saat awal penaikan tarif sampai hari ini. Kecuali stasiun Gambir, Pasar Senen, dan Jakarta Kota (yang ironisnya KRL tidak berhenti di stasiun ini, kecuali di Jakarta Kota yang memang stasiun terminus).
b. Perlakuan prinsip "ada rupa ada harga" mencerminkan arogansi pengelola yang berkelanjutan, terbukti dengan penaikan tarif yang dilakukan tanpa ada perbaikan pelayanan secara substansi.

4. Keluhan Operator Merugi Akibat Pengoperasian KRL AC Saat Ini

Direktur Keuangan KCJ Tri Handoyo mengatakan, untuk biaya operasional yang dikeluarkan rute Jakarta-Bogor sebesar Rp10.700 per orang. Maka dengan tarif saat ini sebesar Rp7.000 per orang, maka KCJ mengalami kerugian sebesar Rp3.700 per orang.

Sumber:  http://news.detik.com/read/2011/06/30/150812/1671878/10/pt-kai-beri-layanan-krl-commuter-line-sesuai-tarif


Komentar:
a. Pada masa KRL masih dikelola oleh Divisi Jabotabek tahun 2004, Kepala Divisi Jabotabek saat itu, Rachmadi Wahab menyatakan KRL Jabotabek untung 40 miliar rupiah. Ini dengan kondisi penumpang tidak sebanyak tahun 2012, jumlah KRL Ekonomi jauh lebih banyak dan jumlah KRL Ekspres jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi tahun 2012 (sumber http://www.gm-marka.web.id/index.php?topic=2716.0 
)
b. PT KCJ tidak pernah mau membuka hitung-hitungan tarif mereka, sehingga dari mana angka Rp10.700 ini didapatkan pun pantas dikritisi.
c. Andaikan memang harga Rp10.700 yang dinyatakan itu benar adanya, adalah kewajiban pemerintah cq Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perkeretaapian untuk memberikan subsidi dalam pengoperasian KA Komuter.

Kesimpulan

Penaikan tarif KRL masih harus disikapi dengan sangat kritis. Memang betul subsidi diperlukan untuk menjaga bisnis yang berkelanjutan sembari mempertahankan harga yang dapat dan mau dibayarkan oleh para penggunanya. Namun sebelum itu, PT KCJ dan PT KAI dapat melakukan lebih banyak efisiensi dan mengoptimalkan pendapatan lain, sebelum meminta penaikan tarif dari para penumpang.
Kebocoran akibat stasiun yang tidak steril (masih banyak orang bebas lalu-lalang keluar-masuk stasiun tanpa alasan jelas) masih belum pula diperbaiki hingga hari ini. Di atas rangkaian, tidak diperlukan petugas sama sekali untuk membersihkan rangkaian karena petugas cleaning service hanya bekerja di stasiun awal dan akhir pemberangkatan kereta. Bahkan pendapatan non-operasional (iklan, bisnis value-added service) masih bisa dimaksimalkan, karena operator kereta besar di negara-negara lain pun tidak melulu mengandalkan karcis yang dibayar pengguna saja sebagai sumber pendapatan.

Sumber : Admin GM-Marka




0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Safety Is The First | Copyright © 2011 Diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger